beberapa pergulatan pikiran dari dalam diri saya yang akhirnya memutuskan,

blog ini akan hiatus mulai dari sekarang, dan akan balik lagi, di waktu yang entah…
*rencana mulianya mah, akan dipakai sebagai blog pengembangan pendidikan dan iptek. haha..doakan

silakan apdet postingan baru saya di http://travelinmee.wordpress.com

and kepikmerah.wordpress.com, will be freeze for a moment, from now on..
sayonara… :DD

-liburan di semester yang keenam. rumah hijau. gunung putri-

 

Wow!
Jangan dibaca kalau begitu. Haha..

Simpel tapi penting.
Berkaitan dengan nama blog saya (kepikmerah.wordpress.com) dan gambar di headernya (gambar “kepik”), ada hal yang harus diluruskan di sini, tentu saja.

Jadi, begini. Yang dimaksud dari gambar di header saya itu..sebenarnya adalah kumbang koksi, sodara-sodara.. jadi, bukan kepik seperti yang udah terlanjur saya tulis sebagai nama dari blog ini. Salah kaprah yang menganggap bakwa kumbang koksi=kepik merupakan paham sesat yang harus diluruskan dan dikembalikan ke jalan yang benar. haha.. apalah arti sebuah nama, mungkin ada yang menganggap begitu. Namun, demi kemaslahatan umat dan penyelamatan ilmu pengetahuan, maka saya buat postingan ini. Ow yeah  (more…)

setidaknya, satu selesai itu lebih baik daripada tidak ada yang selesai sama sekali

Haha..Oke. Saya sedang menikmati hari-hari yang berkebut-kebutan dengan lautan tugas, laporan, dan tanggung (men)jawab UKM. Kurang ajar sekali diri ini yang terus menerus menganggap bahwa diri ini adalah korban. Tuhan telah memberikan banyak hal pada saya, dan tentu saja saya menerimanya. Hanya saja, terlalu banyak hal yang sekiranya luput dari perjuangan. Sekiranya itu memang baik buat saya, tentu sudah saya perjuangkan. Namun, mental ini ternyata masih mental gepeng. Gelandangan dan pengemis. Kaum proletar. Menunggu untuk diberi, apapun itu akan diterima. Ah, naas. Untuk hal yang diimpikan pun saya belum benar-benar memperjuangkannya sepenuh hati saya. Dan sekarang, tumpukan tugas yang selalu saya hindari pada akhirnya hanya ikut terseret-seret pada sendal jepit butut saya, menunggu untuk dilepaskan satu persatu. Yah, hal itu memang dengan sengaja dan sepenuh kesadaran saya saya abaikan. Namun, saya belum memiliki mental sebesar seorang kawan saya yang secara terang-terangan memperlihatkan pemberontakan terhadap apa yang dia kerjakan. Belum. Saya masih memelas mengharap kebaikan orang atas dalih prokrastinasi yang terus menerus saya lontarkan. How pity! (more…)

Sudah menjadi kisah klasik bagi mahasiswa yang telah berjibaku dengan kuliah, bahwa mendapatkan hasil yang terbaik, itulah yang diharapkan. Sebuah bayaran yang pantas tentu saja, untuk mendapatkan nilai yang baik sehabis berlelah-lelah dengan agenda perkuliahan yang padat. Terlebih bagi mahasiswa “angkatan tua”, yang notabene semakin keras saja perjuangannya di dalam siklus dan dinamika kampus. Ranah kognitif yang menekankan aspek intelektual agaknya sedikit banyak membiaskan ungkapan klasik “nilai bukan segalanya”. Ya, nilai memang bukan segalanya. Tapi, nilai itu menentukan segalanya. Terlebih lagi apabila berhubungan dengan banyaknya jatah mata kuliah yang akan diambil di semester selanjutnya. Maka setidaknya, itulah yang sering mencuri perhatian para mahasiswa pengumpul nilai untuk berlomba-lomba mendapatkan nilai setinggi-tingginya. Berbagai cara diterjang dan dilalui, terlepas dari “keabsahan” maupun “kehalalan” ragam cara tersebut. Di lain pihak, mahasiswa yang masih teguh dengan pendiriannya untuk mendapat angka terbaik sesuai dengan kemampuan dan usaha totalitas yang ia miliki juga memiliki harapan yang sama. Maka, andaikata para “pejuang kognisi”ini mengindikasikan ketidaksesuaian hasil yang didapatkan pada saat yudisium dengan usaha yang dilakukan, mereka—atau kami—akan berusaha menemukan solusi. Dan solusi itu berupa revisi nilai. (more…)

Bau!
(more…)

Syukur. Selalu bersyukur.
Bersyukur atas karuniaNya di saat aku merasa sakit atau tercabik;
Ini menandakan aku masih punya hati.

Syukur, selalu bersyukur. Bersyukur atas karuniaNya, saat dia dengan sukses kubuatnya kecewa, walau pada akhirnya aku yang menangis;
Ini menandakan aku masih punya logika=memutuskan siapa yang salah, untuk kemudian memutuskan meminta maaf lebih dulu, tak peduli apalah arti tersangka–siapa yang benar, siapa yang salah
(more…)

Semester lima luar biasa. Kesadaran penuh bahwa saya adalah mahasiswi tingkat tiga, pemikiran idealis ala mahasiswa baru serasa tergerus zaman (cumlaude tiap semester, tembus PKM tingkat nasional, mahasiswa teladan ampe tingkat universitas…luar biasa–lagi-lagi). Bukannya pesimis karena kenyataan tidak semanis bayangan. Haha..namun hakikat proses memang harus menyakitkan agar lebih terasa esensinya. (more…)